Movie Review: All About My Wife (2012)
"Please, seduce my wife."
Cinta
memang dapat membuat orang-orang menjadi gila, sehingga mereka menjadi
buta, dan kemudian lupa bahwa sesungguhnya cinta bukan hanya sekedar
kebahagiaan penuh petualangan yang menyenangkan. Cinta tidak hanya kuat,
ia juga rapuh, ia tidak selamanya putih tapi juga terkadang dapat
membawa hal suram kedalam kehidupan, ia tidak hanya berisikan hal-hal
menyenangkan semata tapi juga dapat menciptakan rasa bosan yang
berkepanjangan. Hal tersebut digambarkan film ini lewat penceritaan yang
ringan dan menyenangkan, All About My Wife (Nae Anaeui Modeun Geot), a wild and energetic comedy from South Korea.
Yeon Jung-in (Im Soo-jung) merupakan
wanita yang keras kepala, cerewet, dan berjiwa bebas, sehingga ketika
tiga hal tadi bergabung menjadi satu tidak ada yang dapat menghentikan
kata demi kata yang mengalir deras dari mulutnya. Tapi bukan berarti ia
merupakan wanita yang dibenci oleh semua pria, karena dibalik sifat
tersebut Jung-In punya penampilan yang lucu dan menggemaskan, yang
membuat jatuh hati seorang ahli seismologi bernama Lee Doo-hyun (Lee Sun-kyun), pria
yang setelah kemudian menjadi suami Jung-in setelah pertemuan tak
disengaja mereka kala terjadi gempa bumi di Nagoya, Jepang. Tapi tujuh
tahun kemudian salah satu masalah besar dalam pernikahan datang
menghampiri mereka.
Sikap
cerewet yang terus mendominasi dari Jung-in pada akhirnya membuat
Doo-hyun mulai merasa frustasi. Ia tidak tahan lagi dengan semua tekanan
itu, ia menginginkan kehidupan yang bebas dan tenang, ingin menyerah,
tapi masalahnya adalah Doo-hyun tidak berani menggugat cerai Jung-in.
Namun sebuah proyek diluar kota memberikan jalan bagi Doo-hyun, yang
memilih meminta bantuan seorang pria cassanova bernama Jang Sung-ki (Ryu Seung-ryong) untuk
menyelesaikan masalahnya itu. Cara ekstrim ia ambil, Sung-ki harus bisa
membuat Jung-in jatuh hati padanya, sehingga ia meminta bercerai
dengan Doo-hyun.
Petualangan selama dua jam yang merupakan remake dari film Argentina berjudul Un novio para mi mujer (A Boyfriend for My Wife) merupakan
sebuah kemasan komedi yang kompeten, kemasan yang punya berbagai hal
menyenangkan yang penonton cari dari genre dengan misi menghadirkan tawa
demi tawa, dan itu lengkap dengan penyakit klasik yang sangat familiar.
Ya, ini tidak sempurna memang, tapi tentu saja ada alasan mengapa
cerita yang ditulis oleh sang sutradara Min Kyu-dong bersama dengan Heo Sung-hye ini
mampu meraih empat juta lebih penonton di Korea sana, sebuah kemeriahan
tanpa henti yang tidak pernah gagal menjaga atensi penontonnya.
Ceritanya standard, durasinya juga terhitung panjang, tapi kehadiran
berbagai hal klise dan klasik itu tidak pernah membuat penontonnya
mengeluh.
Kunci kesuksesan All About My Wife adalah
pesona yang terus terasa menarik, dari awal hingga akhir. Di awal saja
kita sudah dicengkeram dengan aksi “brutal” Jung-in yang juga dengan
mudahnya membuat kita ikut menaruh empati pada Doo-hyun ketika
melihat betapa beratnya kehidupan yang harus ia jalani, setiap hari.
Rasa jengkel itu langsung lahir, dan ketika keputusan gila itu muncul
tidak ada pertentangan yang menghalangi, keluh kesah dan kritik tanpa
henti membuat kita merasa Jung-in layak menerima hal tersebut. Tapi
disini menariknya, konflik yang ia hadir itu akan terasa dangkal dan
murahan dari luar, tapi ternyata didalamnya ada penggambaran yang
menarik dan menggelitik terkait cinta dan pernikahan di dunia modern,
yang kemudian perlahan mengubah pandangan kita yang awalnya menilai ia
sebagai komedi basi dan predictable menjadi studi karakter ringan yang
penuh santai dan penuh tawa.
All About My Wife seperti
mengajak penonton untuk mengamati, menilai, dan menertawakan gejolak
yang dialami karakter, dengan pertanyaan utama seperti yang disebutkan
diawal tadi, “apa itu cinta?”. Banyak hal konyol yang ia lemparkan,
sesekali memainkan ekspresi karakter namun tidak lupa menyelipkan slapstick yang efektif dalam menciptakan tawa meriah, tapi dibalik itu Min Kyu-dong dengan
cerdik mempermainkan pertanyaan tentang cinta tadi untuk konsisten
hinggap di pikiran penonton yang terus terjerat dalam narasi yang
mengalir dengan lembut itu. Doo-hyun dan Jung-in adalah contoh dari apa
yang ditakutkan pasangan dari sebuah pernikahan, apakah mereka kelak
mampu bertahan ketika gelora cinta itu padam, hal-hal yang meskipun
kerap kehilangan momentum tapi secara perlahan semakin berkembang dengan
baik, ada perputaran yang tidak pernah tidak terasa menarik.
Hal
tersebut yang menciptakan rasa aneh, dimana meskipun kita tahu perlahan
ketika memasuki babak akhir ia mulai terasa lemah di sektor cerita,
fokus mulai buyar, ia tidak lagi terasa berlari dengan cepat dalam aksi
mondar-mandir, mulai terasa terseret, tapi kita tidak kehilangan
semangat untuk mengikuti, menelisik, dan menantikan apa yang akan
terjadi pada karakter selanjutnya. Rasa penasaran berhasil dijaga dengan
kuat disini, ada dinamika bercerita yang menarik disertai pergeseran
yang pas untuk mengembangkan permasalahan pad ego dan insecurity itu.
Min Kyu-dong piawai dalam membentuk sinkronisasi antara karakter dan
cerita untuk saling membantu memancarkan energi pada penontonnya,
pengembangan karakter dan hubungan diantara mereka terasa tajam ketika
kita tahu mereka tidak lebih dari manusia-manusia yang sedang bermasalah
dengan diri mereka sendiri.
Divisi
akting juga menjadi alasan lain kesuksesan film ini terus membuat
penonton ingin menontonnya meskipun mereka sadar ia tidak lagi sama
baiknya dengan ketika ia baru dimulai. Hadir chemistry yang kuat di
cinta segitiga itu, tiga individu menyenangkan ketika berdiri sendiri
dan juga ketika mereka berkombinasi. Im Soo-jeong memberikan
kesuksesan besar diawal yang juga berhasil menutup minus dibagian akhir,
karakterisasi yang kuat dan meyakinkan, hal yang juga berhasil
dilakukan dengan baik oleh Lee Sun-kyun, terutama bagaimana ia membantu Im Soo-jeong membuat penonton merasa kesal dengan Yeon Jung-in. Sedangkan Ryu Seung-ryong punya
kapasitas yang terbentuk dengan tepat, yang meskipun di beberapa bagian
terasa canggung tetap punya aura meyakinkan yang kuat dan sulit hilang
sebagai seorang cassanova pujaan banyak wanita.
Overall, All About My Wife adalah
film yang memuaskan. Pergerakan cerita yang terus dijaga untuk tampil
cepat itu berhasil menutupi berbagai nilai minus di sektor cerita yang
perlahan mulai tumbuh kacau. Penonton sudah dibuat sangat tertarik
dengan konflik dan karakter di bagian awal, dan dengan alur yang terus
dipompa bersama limpahan humor lucu dan konyol yang juga mampu klik
dengan baik disamping keintiman tiga karakter utama, All About My Wife terus
memberikan sensasi segar yang juga terus menjaga penontonnya tertarik
dan tertawa. Bukankah itu hal paling sederhana yang anda inginkan dari
sebuah film komedi? Fun and laughs.
%2Bposter.jpg)
%2Bimage.jpg)
%2Bimage1.jpg)
%2Bimage2.jpg)
%2Bimage3.jpg)
